Pages

26 Mar 2014

menjemput bahagia

barangkali memang harus seperti ini jalannya.

setelah segala kesakitan yg terlewati, tiba masanya hanya kebahagiaan kutuai.

seusai lebatnya badai, kubias pelangi sepenuh kuasku menggapai.

barangkali hidup memang harus seperti ini.

hingga jangankan makhluk, semesta pun seolah terpekik mengiringi buncah bahagiaku.

maka cukup bagiku, kepadaNya, sang Maha Penggenggam kebahagiaan, lantunan syukur terucap, tertuang, tertumpah -ruah mewujud syahdu

(26 maret 2014 -yg baca dan nyumbang judul: kak nasih :D)

source

19 Mar 2014

kau dan tanyaku

pada saatnya, entah bagaimana rasa itu mengalir begitu saja

tak ada paksaan seperti yg orang lain katakan

meski ya, awalnya mungkin seperti itu

taukah kau? ada batas di mana kita tiba-tiba harus jatuh tanpa sanggup menghindar?

mengertikah kau? cinta tak sesederhana menyerahkan hati pada dia yg ada

barangkali benar kata orang-orang, mencintai kadang selucu ini

barangkali tepat dugaan mereka, akan tiba saatnya begitu mudah bagimu menyerahkan hatimu pada seseorang tanpa tau mengapa, bagaimana dan seperti apa

maka kemudian kau seolah kehilangan arah, enggan berpaling dari dia yg akhirnya mampu memenangkan hatimu, membuatmu jatuh tanpa banyak kata

kaukah itu? berdiri tegak di balik kilasan mimpiku
kaukah itu? tersenyum sempurna mengulurkan tangan menjemputku
kaukah itu? berusaha merengkuh membawaku serta
kaukah itu? jawaban dari doa-doaku

12 Mar 2014

litaskunu ilaiha (hasil diskusi bersamanya) :p

Assalamu'alaikum :)

hari selasa kemarin ada seseorang yg curhat tentang masalah rumah tangganya ke saya. saya dengarkan sampe selesai tanpa berkomentar apa pun. oke lah teman-teman sering menjadikan saya sebagai tempat curhat, tapi kalo sudah masalah rumah tangga, mana saya tau harus memberi solusi seperti apa.
lagipula saya cuma dengar dari satu pihak, mau berkomentar pun takut salah karna saya tidak mendengar dari kedua belah pihak. jadilah saya cuma memberi solusi sewajarnya, tentang pahala sabar, taqarrub ilaAllah, menjadi istri shaliha (tsahh kaya yg sudah ngerti) dan semacamnya. jadi sesi curhat kemarin belum selesai karena belum tuntas masalahnya, hehe ;)

sorenya, waktu saya telpon kakak ('kakak'nya dalam tanda kutip ini ya), kami berbincang banyak hal tentang ini. akhirnya kepikiran untuk menuangkannya dalam postingan blog.
beliau bilang bahwa yg namanya suami istri, apalagi masih bulan-bulan awal, pastilah melewati masa-masa penyesuaian yg cukup sulit.
iya saja kan, setelah sekian lama hidup sendiri, kenal-kenal sudah sama-sama dewasa, dengan pribadi yg sama sekali berbeda harus saling menyesuaikan diri hidup bersama, menahan ego satu sama lain dan berjuang membentuk keluarga sakinah mawaddah dan rahmah seperti tuntunan AlQur'an, ma shaa Allah bukan sesuatu yg mudah dibayangkan, hehe ;)

kakak juga bilang, sakinah mawaddah warahmah itu mudah, namun aplikasi sakinah yg berasal dari ayat AlQur'an "litaskunuu ilaiha..." itu yg sulit, dalam gramatikal bahasa arab, lafadz litaskunu saja menggunakan lam amar, kemudian sebenarnya memiliki makna yg bersifat istiqbal atau belum terjadi.
lafadz "litaskunu" tersebut bermakna agar supaya menjadi tentram, dan kalimat 'agar supaya' berarti prosesnya tidak terjadi begitu saja, butuh proses dan perjuangan yg panjang serta pilar-pilar yg kokoh untuk membingkai sebuah keluarga dalam mewujudkan sakinah mawaddah dan rahmah.
subhanallah, betapa indahnya islam mengatur kehidupan manusia dalam segala aspek.
anyway, tumben-tumbenan saya bikin posting bertema berat seperti ini, hehe sekali-sekali boleh dong yaaa :D

oke, terima kasih sudah membaca :)

5 Mar 2014

resolusi maret ツ

assalamu'alaikum...
sudah maret lagi ya, waktu bukan cuma berjalan, ia berlari, mengejar siapa pun yg lalai pada ketentuanNya.

seperti baru kemarin masuk tahun 2014, sekarang sudah masuk bulan ketiga lho, ma shaa Allah.

ohya, ada yg belakangan baru saya sadari, bahwa salah satu hal yg paling bikin nyesek sekaligus menyakitkan adalah bisa memberi solusi ke orang lain tapi sendirinya belum mampu melakukan apa yg dibilang.
beneran ya, itu tuh rasanya kayak yg percuma, bisa ngasih solusi, ngasih penjelasan ke banyak orang tapi pas mau ngelakuin sendiri ternyata masih agak berat, astaghfirullah :(

gini lho, tiap lagi di kelas, saya selalu minta ke mereka untuk mengajukan setidaknya 2 pertanyaan wajib ke saya. kalo bisa ya saya jawab langsung, kalo engga ya saya muthola'ah lagi.
actually akhir-akhir ini saya merasa beberapa hal yg saya jelaskan ke mereka ternyata masih ada yg saya sendiri keteteran melakukannya, Allahu rabb...

akhirnya setelah introspeksi, sadar tentang pentingnya hal ini, saya langsung masukkan ke resolusi terpenting bahwa saya harus langsung bisa mengamalkan apa yg saya sampaikan ke orang-orang, bukan sekedar sekian persen, tapi harus bisa 100% melakukan apa yg saya ucapkan. doakan ya! :)