Hai, kamu.
Seseorang yang dua tahun lalu bahkan
belum sekalipun kulihat wajahmu. Apakah waktu itu, terlintas bayangan memiliki
istri sepertiku? Perempuan manja yang harus kausabari setiap hari.
Hai, kamu.
Seseorang yang kulihat setiap
malam sebelum kupejam mata, setiap pagi kala kubuka mata, seseorang yang
mengecup dan memelukku setiap hari, seseorang yang tak penat menjadi sandaran
hatiku.
Hai, kamu.
Belum genap enam bulan kusandang
status baru sebagai istrimu. Maaf, apabila ternyata harus mendapatiku tak
sesempurna bayanganmu. Maaf, apabila banyak kekuranganku yang membuatmu
terganggu. Katamu, begitulah masa-masa awal pernikahan. Tak perlu risaukan
karena kita akan terus berproses, tumbuh menua bersama menghadapi dunia.
Hai, kamu.
Tahukah kamu, aku bersyukur luar
biasa menjadi bagian penting dalam hidupmu. Menjadi pendamping yang kaupilih
untuk menemani langkah-langkahmu. Tenang saja, aku akan dengan senang hati
mengikutimu, menjadi pelengkapmu, mendampingi arahmu, dan sesekali meluruskan
ketika kau keliru mengambil langkah. Tenang saja, aku akan dengan bangga
menggenggam tangan kokohmu, untuk menunjukkan pada dunia siapa dirimu.
Hai, kamu.
Lelaki pemimpin jalanku,
penopang tubuhku, pembimbing langkahku, penyandar bahuku, pengusap air mataku,
pemeluk mimpi-mimpiku. Aku sungguh berharap, aku mampu menjadi pelipur laramu,
penyejuk matamu, penenang jiwamu, persinggahan untukmu selalu pulang.
Hai, kamu.
Kumohon jangan penat menemaniku,
menasehatiku, menuntunku setiap waktu. Merajut mimpi-mimpi besar nan indah,
mulia bersama, berbagi kisah hidup sampai tak ada batas waktu, melanjutkan
jalan tak berujung, menua dan menghebat bersama, menghasilkan
keturunan-keturunan mulia kebanggaan ummat.
Hai, kamuku...
Terima kasih untuk segala kesabaran dan kehebatanmu bersamaku, sungguh, akan datang bertahun-tahun penuh cinta untuk kita lalui bersama...


