Pages

16 Nov 2015

hai, kamuku...


Hai, kamu.
Seseorang yang dua tahun lalu bahkan belum sekalipun kulihat wajahmu. Apakah waktu itu, terlintas bayangan memiliki istri sepertiku? Perempuan manja yang harus kausabari setiap hari.

Hai, kamu.
Seseorang yang kulihat setiap malam sebelum kupejam mata, setiap pagi kala kubuka mata, seseorang yang mengecup dan memelukku setiap hari, seseorang yang tak penat menjadi sandaran hatiku.

Hai, kamu.
Belum genap enam bulan kusandang status baru sebagai istrimu. Maaf, apabila ternyata harus mendapatiku tak sesempurna bayanganmu. Maaf, apabila banyak kekuranganku yang membuatmu terganggu. Katamu, begitulah masa-masa awal pernikahan. Tak perlu risaukan karena kita akan terus berproses, tumbuh menua bersama menghadapi dunia.

Hai, kamu.
Tahukah kamu, aku bersyukur luar biasa menjadi bagian penting dalam hidupmu. Menjadi pendamping yang kaupilih untuk menemani langkah-langkahmu. Tenang saja, aku akan dengan senang hati mengikutimu, menjadi pelengkapmu, mendampingi arahmu, dan sesekali meluruskan ketika kau keliru mengambil langkah. Tenang saja, aku akan dengan bangga menggenggam tangan kokohmu, untuk menunjukkan pada dunia siapa dirimu.

Hai, kamu.
Lelaki pemimpin jalanku, penopang tubuhku, pembimbing langkahku, penyandar bahuku, pengusap air mataku, pemeluk mimpi-mimpiku. Aku sungguh berharap, aku mampu menjadi pelipur laramu, penyejuk matamu, penenang jiwamu, persinggahan untukmu selalu pulang.

Hai, kamu.
Kumohon jangan penat menemaniku, menasehatiku, menuntunku setiap waktu. Merajut mimpi-mimpi besar nan indah, mulia bersama, berbagi kisah hidup sampai tak ada batas waktu, melanjutkan jalan tak berujung, menua dan menghebat bersama, menghasilkan keturunan-keturunan mulia kebanggaan ummat.


Hai, kamuku...
Terima kasih untuk segala kesabaran dan kehebatanmu bersamaku, sungguh, akan datang bertahun-tahun penuh cinta untuk kita lalui bersama...