Pages

20 Jun 2017

Proses Kelahiran Nabega (dengan ILA)

Assalamu'alaikum...

Sejak memasuki usia kehamilan 32 weeks, saya sudah mulai merasa takut membayangkan proses kelahiran. Selain karena ini merupakan pengalaman pertama, saya juga tipe orang yang toleransi terhadap rasa sakitnya sangat rendah, alias sangat tidak tahan sakit. Bahkan ketika hanya demam atau masuk angin pun, saya seringkali merepotkan orang-orang di sekitar terutama suami karena merintih menahan sakit.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat post di instagram story soal keinginan untuk menulis cerita proses kelahiran anak pertama saya, Nabega Ramadan Muhammad, dan ternyata banyak yang membalas di DM agar saya menuliskannya di blog. Dan here it is, di sela-sela waktu menemani dan memberi ASI pada Nabega, saya sempatkan untuk membuka laptop dan menulis.

Hari Sabtu pagi, tanggal 3 Juni 2017, saya terbangun sebelum waktu sahur karena merasa mulas dan turun ke kamar mandi sekalian sahur lebih pagi. Frekuensi mulas waktu itu masih sangat jarang dan belum teratur. Tapi karena saya, ya saya yang manja ini, sudah cengar cengir ke suami sambil bilang berkali-kali kalo perut saya mulas. Saya yakin, rasa mulas yg masih amat jarang itu bagi orang lain pastilah belum dirasakan apa-apa. Lah kalo saya? Sudah heboh sendiri, hehehe.

Kebetulan, malam sebelumnya saya baru saja kontrol mingguan ke dr. Hendro, M.Kes, Sp.Og, obgyn yang saya (dan suami) inginkan untuk mendampingi proses bersalin nanti. Ketika masuk ruangan, beliau menyapa dengan kalimat, “Belum keluar juga ya? Masih betah ya di dalam dedeknya?” Sehingga beliau menyarankan saya untuk mengonsumsi nanas. Dan ternyata sebelum sempat mencari nanas, pagi harinya saya sudah mulai merasakan mulas.

Kembali ke cerita awal, sekitar jam 7 pagi, saya merasakan mulasnya sudah datang setiap 10 menit sekali, tapi belum juga ada tanda lendir bercampur darah yang keluar, atau air ketuban yang pecah. Tapi karena saya dan suami sama-sama masih lugu dan tidak tau harus bagaimana, akhirnya setiap beberapa menit sekali  suami menelpon dokter Hendro dan disuruh datang kalau nanti sudah keluar lendir bercampur darah. Tapi belum juga keluar lendir darahnya, saya sudah heboh mengajak suami berangkat ke Rumah Sakit. Kami hanya pamitan pada Abah dan mengatakan akan cek HB di rumah sakit. Memang dari awal kami tidak ingin memberitahu ummi karena beliau tidak tegaan dan tidak berani menunggui orang yang mau melahirkan.

Sekitar pukul 9.00 pagi, kami sampai di RS dan langsung menuju IGD untuk dicek tekanan darah, detak jantung bayi, dan lain-lain sementara suami mengurus pendaftaran. Ternyata setelah dicek baru tahap pembukaan 1. Kalo di bidan sudah pasti disuruh pulang dulu dan diminta datang lagi setelah sekian jam. Tapi sebagai orang yang agak parno, saya malah makin takut kalo disuruh pulang lagi karena tidak tahu kapan harus datang lagi. Jadilah di RS saya masih sempat berjalan-jalan di sekitaran IGD.

Beberapa saat kemudian, kurang lebih pukul 11 siang, saya diminta masuk ke ruang bersalin. Saya berdua suami masuk ke ruang tersebut dengan keadaan saya yang makin cengar-cengir karena rasa sakit yang semakin terasa. Tiba waktu dzuhur, saya masih bisa sholat berjamaah bersama suami. Pukul 14.00, dicek pembukaan lagi ternyata masih pembukaan 3, mashaa Allah, sakitnya makin menjadi-jadi dan saya sudah teus menerus merintih dan menangis sambil menarik-narik (entah mencubit) lengan suami, hehehe. Kenapa lama sekaliii rasanya, kalo kata orang Jawa karena anak pertama mungkin masih mencari-cari jalan lahir.

Ngomong-ngomong soal jalan lahir, sejak masuk usia 9 bulan kehamilan, saya sudah sering menerapkan hypnobirth kepada anak dalam kandungan. Kurang lebih begini, “Dedek sayang, anak shalih, bantuin Mama ya cari jalan lahir. Kita berusaha sama-sama, Mama berusaha di sini, dedek di dalam juga bantuin Mama ya Nak, ya...” Saya sering mengucap kalimat itu karena saya yakin, anak saya bisa mendengar dan merasakannya.

Kembali ke proses di ruang bersalin, saya sudah kesakitan merasakan kontraksi dan terus mengeluarkan air mata. (Proses setiap orang beda-beda ya, dan sekali lagi, saya memang amat tidak tahan sakit). Melihat istrinya yang terus-menerus mengeluarkan air mata, suami saya tidak tega dan menawarkan untuk menggunakan bius ILA. Awalnya saya menolak, tapi karena makin tidak tahan, saya bilang ke suami untuk segera menelpon dokter Hendro yang waktu itu sedang di ruang operasi. Setelah disetujui, datanglah dokter spesialis anestesi untuk melakukan prosedur ILA dan saya diinjeksi pertama kali pukul 14.30.

Bagi yang belum mengetahui apa itu bius ILA (Intrathecal Labor Analgesia), kurang lebih begini penjelasannya. Bius ILA berbeda dengan anestesi epidural. Bius ILA ini dilakukan dengan memberikan suntikan di daerah saraf tulang belakang yang mengurangi nyeri pada waktu kontraksi sebesar 50% hingga 90%. ILA bukan bius total yang membebaskan kita dari rasa sakit karena kita masih bisa merasakan sakit ringan saat kontraksi atau ketika diperiksa bukaan jalan lahir. Bius ini hanya mengurangi rasa sakit/ mem-blok rasa nyerinya saja tanpa harus mem-blok motorik geraknya. Jadi, dengan bius ILA, kita masih bisa merasakan kontraksi perut kencang (namun tidak sakit), peregangan bagian paha dan vagina tetap terasa, serta saat kelahiran tetap merasakan kelahiran normal karena biusnya tidak sampai ke vagina. Keuntungannya, kita bisa tahu kapan harus mengejan ketika bukaan sudah lengkap.

Lanjut lagi...

Pukul 16.00 sore, dicek lagi baru masuk pembukaan 4. Tapi karena tidak merasakan nyeri, saya bahkan masih bisa tidur sekitar satu jam while suami ngaji di sebelah saya. Pukul 17.00, saya sudah merasakan sakit lagi dan sudah merengek lagi minta suami tanya ke bidannya kapan diinjeksi lagi. Dosis normalnya 3 jam dari injeksi yang pertama, tapi karena saya sudah mulai cengar-cengir lagi, akhirnya dihubungkan ke dokter anestesinya lagi dan injeksi bisa diajukan jam 17.30. Masuk waktu maghrib, suami buka puasa di sebelah saya, dan saya minta dicek pembukaan lagi ternyata sudah pembukaan 8, alhamdulillah... Suami kemudian sholat dan setelahnya menyuapi saya makan dan makan buah. Sehabis maghrib saya merasakan seperti ada yang semakin turun dan ‘nyundul’ ke bawah, dicek lagi sudah pembukaan 9 dan beberapa menit kemudian sudah bukaan lengkap. Mashaa Allah, deg-degan ga tau harus gimana cara mengejannya, pasrah wes...

Jam 19.00, beberapa bidan masuk dan menyalakan lampu yang terangnya mashaa Allah itu dan bersiap membantu persalinan. Dokter Hendro memberi intruksi dari balik tirai karena memang dari awal saya minta untuk ditunggui beliau tapi persalinan tetap dibantu bidan. Saya merasakan mulas yang rasanya seperti mau pup dan berkali-kali bilang kalo mau pup. Mengejan yang pertama, belum berhasil karena katanya kurang kuat tapi sudah kelihatan rambutnya. Suami ada di sebelah saya sambil terus menerus berdoa dan memegang tangan saya. Akhhirnya, tepat pukul 19.20, tanggal 9 Ramadan 1438, bayi mungil kami, permata cinta kami, lahir ke dunia ini dengan tangisan yang membahagiakan. Suami saya seketika mencium kening saya sambil menangis dan mengucapkan terima kasih berkali-kali, juga mba Nisma (kakak ipar yang ikut menunggui proses persalinan).



Mashaa Allah, terharu dan bahagia luar biasa setelah berhasil melewati semua proses itu. Ketika anak saya diletakkan di dada saya untuk IMD, buncah bahagia dan syukur tidak terkira memenuhi perasaan kami. Allahu Rabb, terima kasih untuk semua anugerah ini. Sungguh, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan? 

Terima kasih banyak sudah membaca cerita amat panjang ini, mohon doakan Nabega agar menjadi laki-laki shalih, faqqih fiddin, diridhoi gusti Allah dan dibanggakan Rasulullah, aamiin...