Assalamu’alaikum,
Suatu hari, embak saya, Mba Zulfa berkenalan dengan seorang
wanita tua berusia 80an yang bersama-sama dalam suatu KBIH. Pukul 6.30 pagi,
ketika ada jadwal berkumpul untuk semua jama’ah, mba Zulfa mendapati nenek tua
tersebut sudah tiba di point meeting sedari waktu shubuh. Ketika ditanya dengan
siapa sang nenek datang, beliau menjawab bahwa beliau datang seorang diri
dengan berjalan kaki, berangkat dari rumah sekitar pukul 4 pagi. Mba Zulfa
kemudian menceritakan kisah mengharukan tentangnya yang membuat saya makin luar
biasa bersyukur atas limpahan berkah dan nikmat dari-Nya. Karena saya sendiri
tidak tau siapa namanya, selanjutnya ijinkan saya mengkiaskannya dengan nama
Mbah Sa’adah.
Begini kisahnya…
Sa’adah kecil lahir dalam keadaan yatim kala kondisi sekitarnya
sama sekali tidak aman dan kondusif. Jangankan kemerdekaan, ia bahkan masih
merasakan suasana perang di sekitarnya. Sa’adah adalah anak tunggal yang tidak
pernah tau siapakah saudara dari ayah atau ibunya. Malangnya, ketika berusia 6
atau 7 tahun, ibunya pun meninggal. Sa’adah kecil bekerja sejak 7 tahun,
mengerjakan apa pun asalkan bisa terus bertahan hidup.
Entah pada usia berapa, ia kemudian menikah dan dikaruniai
seorang anak perempuan. Dibesarkan dan dididiknya anak semata wayangnya itu
hingga sang anak menemukan jodohnya dan menikah dengan orang luar Jawa. Sang
anak kemudian tinggal di Jakarta, dan “hanya” mau mengunjungi Sa’adah 5 tahun
sekali. Menantu Sa’adah tidak suka padanya, setiap kali pulang ke rumah
Sa’adah, entah apa sebabnya sang menantu membual bahwa Sa’adah ingin
meracuninya, na’udzubillah.
Di usia senjanya, Sa’adah tinggal dengan seorang anak
perempuan yang diasuh dan dianggap cucunya sendiri yg kini berusia sekitar 17
tahun.
Sejak usia dia mulai bekerja, Sa’adah hanya memakai upahnya
untuk memenuhi kebutuhan hidup dan makan sehari-hari, apabila ada sisa, sisanya
itu ia titipkan ke sebuah toko emas di Temanggung untuk ditabung. Dia tak
pernah tau berapa jumlah tabungannya yg ada di toko emas itu.
Hingga pada suatu hari di tahun 2009, Sa’adah yang begitu
ingin mewujudkan mimpinya untuk menunaikan rukun Islamnya yang kelima,
mendatangi toko emas tempat ia menabung dan menanyakan jumlah uang tabungannya.
Sang pemilik toko emas mengatakan bahwa Sa’adah memiliki uang 57 juta hasil tabungan
nyaris seumur hidupnya. Semua pegawai dan orang-orang yang mendengar memeluknya
dan meneteskan airmata mendengar takbir dan tangis buncah bahagia yang keluar
dari mulut Sa’adah. Tahun itu juga, Sa’adah mendaftarkan diri untuk berangkat
haji dan inshaa Allah akan berangkat tahun 2015 ini.
Allahu Rabb, saya sungguhan meneteskan air mata mendengar cerita
yang disampaikan oleh mba Zulfa. Menyadari betapa banyak nikmat di sekitar saya
yang seringkali abai untuk disyukuri. Maka saya seringkali malu untuk meminta
lebih, kala limpahan nikmat-Nya masih lalai untuk saya syukuri. Tetima kasih
sudah menyadarkan saya dengan kisah wanita itu…