Pages

17 Apr 2015

a touched story



Assalamu’alaikum,

Suatu hari, embak saya, Mba Zulfa berkenalan dengan seorang wanita tua berusia 80an yang bersama-sama dalam suatu KBIH. Pukul 6.30 pagi, ketika ada jadwal berkumpul untuk semua jama’ah, mba Zulfa mendapati nenek tua tersebut sudah tiba di point meeting sedari waktu shubuh. Ketika ditanya dengan siapa sang nenek datang, beliau menjawab bahwa beliau datang seorang diri dengan berjalan kaki, berangkat dari rumah sekitar pukul 4 pagi. Mba Zulfa kemudian menceritakan kisah mengharukan tentangnya yang membuat saya makin luar biasa bersyukur atas limpahan berkah dan nikmat dari-Nya. Karena saya sendiri tidak tau siapa namanya, selanjutnya ijinkan saya mengkiaskannya dengan nama Mbah Sa’adah.

Begini kisahnya…
Sa’adah kecil lahir dalam keadaan yatim kala kondisi sekitarnya sama sekali tidak aman dan kondusif. Jangankan kemerdekaan, ia bahkan masih merasakan suasana perang di sekitarnya. Sa’adah adalah anak tunggal yang tidak pernah tau siapakah saudara dari ayah atau ibunya. Malangnya, ketika berusia 6 atau 7 tahun, ibunya pun meninggal. Sa’adah kecil bekerja sejak 7 tahun, mengerjakan apa pun asalkan bisa terus bertahan hidup.
Entah pada usia berapa, ia kemudian menikah dan dikaruniai seorang anak perempuan. Dibesarkan dan dididiknya anak semata wayangnya itu hingga sang anak menemukan jodohnya dan menikah dengan orang luar Jawa. Sang anak kemudian tinggal di Jakarta, dan “hanya” mau mengunjungi Sa’adah 5 tahun sekali. Menantu Sa’adah tidak suka padanya, setiap kali pulang ke rumah Sa’adah, entah apa sebabnya sang menantu membual bahwa Sa’adah ingin meracuninya, na’udzubillah.
Di usia senjanya, Sa’adah tinggal dengan seorang anak perempuan yang diasuh dan dianggap cucunya sendiri yg kini berusia sekitar 17 tahun.
Sejak usia dia mulai bekerja, Sa’adah hanya memakai upahnya untuk memenuhi kebutuhan hidup dan makan sehari-hari, apabila ada sisa, sisanya itu ia titipkan ke sebuah toko emas di Temanggung untuk ditabung. Dia tak pernah tau berapa jumlah tabungannya yg ada di toko emas itu.
Hingga pada suatu hari di tahun 2009, Sa’adah yang begitu ingin mewujudkan mimpinya untuk menunaikan rukun Islamnya yang kelima, mendatangi toko emas tempat ia menabung dan menanyakan jumlah uang tabungannya. Sang pemilik toko emas mengatakan bahwa Sa’adah memiliki uang 57 juta hasil tabungan nyaris seumur hidupnya. Semua pegawai dan orang-orang yang mendengar memeluknya dan meneteskan airmata mendengar takbir dan tangis buncah bahagia yang keluar dari mulut Sa’adah. Tahun itu juga, Sa’adah mendaftarkan diri untuk berangkat haji dan inshaa Allah akan berangkat tahun 2015 ini.
Allahu Rabb, saya sungguhan meneteskan air mata mendengar cerita yang disampaikan oleh mba Zulfa. Menyadari betapa banyak nikmat di sekitar saya yang seringkali abai untuk disyukuri. Maka saya seringkali malu untuk meminta lebih, kala limpahan nikmat-Nya masih lalai untuk saya syukuri. Tetima kasih sudah menyadarkan saya dengan kisah wanita itu…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, feel free to share your comment :)