Pages

21 Sep 2012

"Bapak" yg kukenal di Pare

ini bukan kali pertama aku memposting tentang kehidupanku di Pare pada tahun 2010 hingga 2011 lalu.
Alhamdulillah, Allah mempertemukanku dengan orang-orang hebat selama masa belajarku di sana selama kurang lebih empat bulan; dari mulai guru-guru, teman-teman seperjuangan yg luar biasa hebatnya, sampe ibu asrama dan keluarganya yg kemudian begitu dekat denganku layaknya keluarga.
kali ini, aku bukan ingin memposting tentang teman-teman, tapi aku ingin sedikit bercerita tentang bapak.
siapa bapak? bapak adalah kakak ipar dari ibu asrama yg rumahnya tepat di depan (dan samping) rumah kos atau asrama yg kutempati semasa di Pare.
bapak seorang laki-laki sepuh berusia sekitar 60 tahun yg hebat. (sekali lagi kutegaskan, banyak sekali orang-orang hebat yg Allah pertemukan denganku di Pare).
sampai seusia ini, Allah belum memberikan kepercayaan seorang keturunan kepada Bapak. dulu aku berpikir, kenapa Allah membiarkan bapak hidup tanpa seorang putra pun untuk menemani hari tuanya? masha Allah, begitu naifnya aku berani mempertanyakan takdirNya tentang hal itu.. namun setelah sekian lama barulah aku sadar, rencanaNya tetap yg terbaik. dari tiga amal sholih yg akan terus mengalirkan pahalanya ketika bapak kelak tiada, bapak sudah punya dua diantaranya; kecuali waladun sholih yg sampe saat ini belum Allah karuniakan.
letak bagian belakang rumah bapak berada tepat di sebelah kamarku. hampir setiap pagi bapak selalu menyapaku dari jendela kamar. mengingatkanku untuk belajar, mengaji dan sholat-sholat sunnah adalah kebiasaan beliau. sesekali bapak juga mengajakku sarapan bersamanya.
bapak, bapak tak pernah enggan melakukan kebaikan, sifatnya yg luar biasa ramah dan 'arif membuat beliau bisa dekat dengan siapa saja, termasuk denganku.
meski bukan siapa-siapa, bapak sudah kuanggap layaknya abahku sendiri.
ketika melihatku muram, bapak tak segan menasehatiku dengan suara sepuhnya yg menenangkan.
satu hal yg hingga kini selalu teringat, bapak menangis sewaktu aku pamit pada beliau karna masa belajarku di Pare sudah berakhir. ya, bapak menangis melihatku meninggalkan kampung bahasa itu.
ah... bapak... aku merindukanmu. semoga Allah membalas semua menerima semua amal baik dan memberkahi usiamu :")

ini foto bapak & ummi as


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, feel free to share your comment :)