Assalamu'alaikum...
Sejak memasuki usia kehamilan 32 weeks, saya sudah mulai
merasa takut membayangkan proses kelahiran. Selain karena ini merupakan
pengalaman pertama, saya juga tipe orang yang toleransi terhadap rasa sakitnya
sangat rendah, alias sangat tidak tahan sakit. Bahkan ketika hanya demam atau
masuk angin pun, saya seringkali merepotkan orang-orang di sekitar terutama
suami karena merintih menahan sakit.
Beberapa waktu yang lalu saya sempat post di instagram story
soal keinginan untuk menulis cerita proses kelahiran anak pertama saya, Nabega
Ramadan Muhammad, dan ternyata banyak yang membalas di DM agar saya
menuliskannya di blog. Dan here it is, di sela-sela waktu menemani dan memberi
ASI pada Nabega, saya sempatkan untuk membuka laptop dan menulis.
Hari Sabtu pagi, tanggal 3 Juni 2017, saya terbangun sebelum
waktu sahur karena merasa mulas dan turun ke kamar mandi sekalian sahur lebih
pagi. Frekuensi mulas waktu itu masih sangat jarang dan belum teratur. Tapi
karena saya, ya saya yang manja ini, sudah cengar cengir ke suami sambil bilang
berkali-kali kalo perut saya mulas. Saya yakin, rasa mulas yg masih amat jarang
itu bagi orang lain pastilah belum dirasakan apa-apa. Lah kalo saya? Sudah
heboh sendiri, hehehe.
Kebetulan, malam sebelumnya saya baru saja kontrol mingguan
ke dr. Hendro, M.Kes, Sp.Og, obgyn yang saya (dan suami) inginkan untuk
mendampingi proses bersalin nanti. Ketika masuk ruangan, beliau menyapa dengan
kalimat, “Belum keluar juga ya? Masih betah ya di dalam dedeknya?” Sehingga
beliau menyarankan saya untuk mengonsumsi nanas. Dan ternyata sebelum sempat
mencari nanas, pagi harinya saya sudah mulai merasakan mulas.
Kembali ke cerita awal, sekitar jam 7 pagi, saya merasakan
mulasnya sudah datang setiap 10 menit sekali, tapi belum juga ada tanda lendir
bercampur darah yang keluar, atau air ketuban yang pecah. Tapi karena saya dan
suami sama-sama masih lugu dan tidak tau harus bagaimana, akhirnya setiap
beberapa menit sekali suami menelpon
dokter Hendro dan disuruh datang kalau nanti sudah keluar lendir bercampur darah.
Tapi belum juga keluar lendir darahnya, saya sudah heboh mengajak suami
berangkat ke Rumah Sakit. Kami hanya pamitan pada Abah dan mengatakan akan cek
HB di rumah sakit. Memang dari awal kami tidak ingin memberitahu ummi karena
beliau tidak tegaan dan tidak berani menunggui orang yang mau melahirkan.
Sekitar pukul 9.00 pagi, kami sampai di RS dan langsung
menuju IGD untuk dicek tekanan darah, detak jantung bayi, dan lain-lain
sementara suami mengurus pendaftaran. Ternyata setelah dicek baru tahap
pembukaan 1. Kalo di bidan sudah pasti disuruh pulang dulu dan diminta
datang lagi setelah sekian jam. Tapi sebagai orang yang agak parno, saya malah
makin takut kalo disuruh pulang lagi karena tidak tahu kapan harus datang lagi.
Jadilah di RS saya masih sempat berjalan-jalan di sekitaran IGD.
Beberapa saat kemudian, kurang lebih pukul 11 siang, saya
diminta masuk ke ruang bersalin. Saya berdua suami masuk ke ruang tersebut
dengan keadaan saya yang makin cengar-cengir karena rasa sakit yang semakin
terasa. Tiba waktu dzuhur, saya masih bisa sholat berjamaah bersama suami.
Pukul 14.00, dicek pembukaan lagi ternyata masih pembukaan 3, mashaa Allah,
sakitnya makin menjadi-jadi dan saya sudah teus menerus merintih dan menangis
sambil menarik-narik (entah mencubit) lengan suami, hehehe. Kenapa lama
sekaliii rasanya, kalo kata orang Jawa karena anak pertama mungkin masih
mencari-cari jalan lahir.
Ngomong-ngomong soal jalan lahir, sejak masuk usia 9 bulan
kehamilan, saya sudah sering menerapkan hypnobirth kepada anak dalam kandungan.
Kurang lebih begini, “Dedek sayang, anak shalih, bantuin Mama ya cari jalan
lahir. Kita berusaha sama-sama, Mama berusaha di sini, dedek di dalam juga
bantuin Mama ya Nak, ya...” Saya sering mengucap kalimat itu karena saya yakin,
anak saya bisa mendengar dan merasakannya.
Kembali ke proses di ruang bersalin, saya sudah kesakitan
merasakan kontraksi dan terus mengeluarkan air mata. (Proses setiap orang
beda-beda ya, dan sekali lagi, saya memang amat tidak tahan sakit). Melihat
istrinya yang terus-menerus mengeluarkan air mata, suami saya tidak tega dan
menawarkan untuk menggunakan bius ILA. Awalnya saya menolak, tapi karena makin
tidak tahan, saya bilang ke suami untuk segera menelpon dokter Hendro yang
waktu itu sedang di ruang operasi. Setelah disetujui, datanglah dokter
spesialis anestesi untuk melakukan prosedur ILA dan saya diinjeksi pertama kali
pukul 14.30.
Bagi yang belum mengetahui apa itu bius ILA (Intrathecal
Labor Analgesia), kurang lebih begini penjelasannya. Bius ILA berbeda dengan
anestesi epidural. Bius ILA ini dilakukan dengan memberikan suntikan di daerah saraf
tulang belakang yang mengurangi nyeri pada waktu kontraksi sebesar 50% hingga
90%. ILA bukan bius total yang membebaskan kita dari rasa sakit karena kita
masih bisa merasakan sakit ringan saat kontraksi atau ketika diperiksa bukaan
jalan lahir. Bius ini hanya mengurangi rasa sakit/ mem-blok rasa nyerinya saja
tanpa harus mem-blok motorik geraknya. Jadi, dengan bius ILA, kita masih bisa
merasakan kontraksi perut kencang (namun tidak sakit), peregangan bagian paha
dan vagina tetap terasa, serta saat kelahiran tetap merasakan kelahiran normal
karena biusnya tidak sampai ke vagina. Keuntungannya, kita bisa tahu kapan
harus mengejan ketika bukaan sudah lengkap.
Lanjut lagi...
Pukul 16.00 sore, dicek lagi baru masuk pembukaan 4. Tapi
karena tidak merasakan nyeri, saya bahkan masih bisa tidur sekitar satu jam
while suami ngaji di sebelah saya. Pukul 17.00, saya sudah merasakan sakit lagi
dan sudah merengek lagi minta suami tanya ke bidannya kapan diinjeksi lagi. Dosis
normalnya 3 jam dari injeksi yang pertama, tapi karena saya sudah mulai
cengar-cengir lagi, akhirnya dihubungkan ke dokter anestesinya lagi dan injeksi
bisa diajukan jam 17.30. Masuk waktu maghrib, suami buka puasa di sebelah saya,
dan saya minta dicek pembukaan lagi ternyata sudah pembukaan 8,
alhamdulillah... Suami kemudian sholat dan setelahnya menyuapi saya makan dan
makan buah. Sehabis maghrib saya merasakan seperti ada yang semakin turun dan ‘nyundul’
ke bawah, dicek lagi sudah pembukaan 9 dan beberapa menit kemudian sudah bukaan
lengkap. Mashaa Allah, deg-degan ga tau harus gimana cara mengejannya, pasrah
wes...
Jam 19.00, beberapa bidan masuk dan menyalakan lampu yang
terangnya mashaa Allah itu dan bersiap membantu persalinan. Dokter Hendro
memberi intruksi dari balik tirai karena memang dari awal saya minta untuk
ditunggui beliau tapi persalinan tetap dibantu bidan. Saya merasakan mulas yang
rasanya seperti mau pup dan berkali-kali bilang kalo mau pup. Mengejan yang
pertama, belum berhasil karena katanya kurang kuat tapi sudah kelihatan
rambutnya. Suami ada di sebelah saya sambil terus menerus berdoa dan memegang
tangan saya. Akhhirnya, tepat pukul 19.20, tanggal 9 Ramadan 1438, bayi mungil kami, permata cinta
kami, lahir ke dunia ini dengan tangisan yang membahagiakan. Suami saya
seketika mencium kening saya sambil menangis dan mengucapkan terima kasih
berkali-kali, juga mba Nisma (kakak ipar yang ikut menunggui proses
persalinan).
Mashaa Allah, terharu dan bahagia luar biasa setelah
berhasil melewati semua proses itu. Ketika anak saya diletakkan di dada saya
untuk IMD, buncah bahagia dan syukur tidak terkira memenuhi perasaan kami.
Allahu Rabb, terima kasih untuk semua anugerah ini. Sungguh, maka nikmat
Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?
Terima kasih banyak sudah membaca cerita amat panjang ini, mohon doakan Nabega agar menjadi laki-laki shalih, faqqih fiddin, diridhoi gusti Allah dan dibanggakan Rasulullah, aamiin...


Mewek bacanya ..ikut deg2an, akhirnya ikut lega ikut seneng juga..masya Alloh..
BalasHapusSholeh ya dek nabega��
Aamiin... Matur suwun amah, inshaa Allah enggal nyusul njih 😍😍😍
HapusYa Allah mo cryyyyy ntar aku kayak apaaaaaaaa
BalasHapusHmmm hmmm... Ya padahal bibi lebih tida tahan sakit dibanding aku, kita lihat saja nanti :D
HapusMules bacanya neng. Dr bertahun2 lalu sdh gumun ada org pesantren msh kecil bikin blog isinya bagus.
BalasHapus