Pages

16 Nov 2015

hai, kamuku...


Hai, kamu.
Seseorang yang dua tahun lalu bahkan belum sekalipun kulihat wajahmu. Apakah waktu itu, terlintas bayangan memiliki istri sepertiku? Perempuan manja yang harus kausabari setiap hari.

Hai, kamu.
Seseorang yang kulihat setiap malam sebelum kupejam mata, setiap pagi kala kubuka mata, seseorang yang mengecup dan memelukku setiap hari, seseorang yang tak penat menjadi sandaran hatiku.

Hai, kamu.
Belum genap enam bulan kusandang status baru sebagai istrimu. Maaf, apabila ternyata harus mendapatiku tak sesempurna bayanganmu. Maaf, apabila banyak kekuranganku yang membuatmu terganggu. Katamu, begitulah masa-masa awal pernikahan. Tak perlu risaukan karena kita akan terus berproses, tumbuh menua bersama menghadapi dunia.

Hai, kamu.
Tahukah kamu, aku bersyukur luar biasa menjadi bagian penting dalam hidupmu. Menjadi pendamping yang kaupilih untuk menemani langkah-langkahmu. Tenang saja, aku akan dengan senang hati mengikutimu, menjadi pelengkapmu, mendampingi arahmu, dan sesekali meluruskan ketika kau keliru mengambil langkah. Tenang saja, aku akan dengan bangga menggenggam tangan kokohmu, untuk menunjukkan pada dunia siapa dirimu.

Hai, kamu.
Lelaki pemimpin jalanku, penopang tubuhku, pembimbing langkahku, penyandar bahuku, pengusap air mataku, pemeluk mimpi-mimpiku. Aku sungguh berharap, aku mampu menjadi pelipur laramu, penyejuk matamu, penenang jiwamu, persinggahan untukmu selalu pulang.

Hai, kamu.
Kumohon jangan penat menemaniku, menasehatiku, menuntunku setiap waktu. Merajut mimpi-mimpi besar nan indah, mulia bersama, berbagi kisah hidup sampai tak ada batas waktu, melanjutkan jalan tak berujung, menua dan menghebat bersama, menghasilkan keturunan-keturunan mulia kebanggaan ummat.


Hai, kamuku...
Terima kasih untuk segala kesabaran dan kehebatanmu bersamaku, sungguh, akan datang bertahun-tahun penuh cinta untuk kita lalui bersama...



26 Sep 2015

menikmati fase ini...

Assalamu'alaikum...

Pernikahan saya dan suami memasuki usia 115 hari. Yah, usia pernikahan yg masih terbilang sangat muda. Sedang hangat-hangatnya, sedang mesra-mesranya, (masih) terus digoda di mana-mana, disebut sebagai pengantin baru. Meski sudah hampir 4 bulan, dan bukan usia yg baru lagi sebenarnya.

Ketika baru sekitar sebulan saya menikah, ada orang, yg entah dengan dalih apa, mengucap kalimat sarkas pada saya, begini kira-kira bunyinya, "Halah, masih anyar, masih baru. Masih enak-senengnya doang itu. Coba aja nanti, ga lama lagi, pasti baru ketauan aslinya kayak apa. Ngerasain susahnya hidup berumah tangga kayak apa..."
Saya hanya tersenyum mendengarnya (membaca lebih tepatnya, karena kalimat tersebut disampaikan melalui pesan singkat), sama sekali tidak berusaha tau siapa pengirim pesan tanpa nama tersebut, dan seketika menghapusnya, bahkan belum sempat saya screenshot :P

Bukan sok gegayaan, bukan tak mau realistis. Sebagai manusia saya paham betul, namanya perjalanan tentu tidak bisa selalu berada di jalanan landai, datar tanpa kelokan. Ada kalanya jalan itu membelok tiba-tiba, mendaki tajam atau menurun curam. Tapi dengannya, saya tidak pernah sendiri, saya yakin sesulit apa pun jalannya, asalkan bersamanya, saya akan selalu baik-baik saja...

Saya tau, ilmu saya tentang rumah tangga dan pernikahan masihlah sangat minim. Tapi saya berusaha, jangankan beberapa bulan mendatang, bertahun bahkan berpuluh tahun lagi pun, saya bertekad akan terus membawa, menciptakan dan memperjuangkan kebahagiaan ini.

Hari ini, di usia pernikahan di hari ke-115, saya dengan bangga menuliskan, betapa saya mensyukuri tiap fase yang terjadi dalam kehidupan saya. Betapa fase yg benar-saya saya syukuri ini, menjadi istri dari seorang Nashih Muhammad, lelaki shalih yg mempercayai saya menjadi pendamping hidupnya, adalah fase yg sempat orang-orang bilang sebagai, "Coba aja nanti kalo udah nikah, coba aja kalo udah berapa bulan nikah. Ga akan seneng-seneng kayak manten anyar."

Well, sekali lagi saya tersenyum. Ketika menuliskan ini, saya masih dan akan terus merasakan euforia, kebahagiaan sebagai seorang istri, sebagai, yah... pengantin baru...

Nikmati saja, karena setiap fase yang saya lewati, adalah skenario terbaik yg Allah pilihkan untuk kami lakukan....

Selasa, 22 September 2015

2 Jul 2015

#nelilnasih The-Day (part 1; BTS & akad)



Assalamu'alaikum,

It's been 2 months since my last post. yeah, karena sepanjang April dan Mei kemarin, saya disibukkan oleh persiapan pernikahan yang subhanallah hecticnya. dan Alhamdulillah, tepat pukul 9.00 pada tanggal 30 Mei 2015 aka 11 Sya'ban 1436 kemarin, Im officially became Mr. Nashih Muhammad's beloved wife.

Sepanjang bulan Juni tentu saja masih (tetap) hectic #halah menyandang status baru sebagai seorang istri, makanya belum kesampaian juga niat untuk posting tentang pernikahan saya. 

Saya dinikahi oleh lelaki shalih yang sudah saya kenal selama kurang lebih satu tahun. Bagi sebagian orang, kisah kami mungkin tidak menarik untuk diikuti bahkan terkesan jadul. Namun bagi banyak sebagian yang lain perjalanan kami menuju pernikahan justru sungguh mengejutkan dan ditunggu kelanjutannya. 

Lain waktu, inshaa Allah saya akan membuat post khusus tentang perjalanan saya dan suami (ah, bahagia rasanya sudah menyebutnya dengan 'suami', amazed, isn't it?) 
but first, lemme tell you about The-Day; May 30th 2015. 

Hari Jumat malam, atau malam lajang terakhir, sampai pukul 00.00 lebih saya belum kunjung bisa memejamkan mata karena suasana kamar saya masih begitu ramai karena banyak teman yang menginap demi menyaksikan dan mendampingi detik-detik terakhir saya sebelum berstatus istri orang. Hingga naris pukul 23.00 tangan saya dilukis henna oleh salah seorang henna-wedding yang kebetulan adalah teman saya.


Selepas itu, karena beramai-ramai dalam satu kamar, tentu tidak memungkinkan bagi saya untuk tidur, padahal saya akan mulai dimake-up pukul 04.00 pagi. Jadilah saya pindah ke lantai bawah untuk mencari kamar yang sepi. dan ternyata kamar-kamar di lantai bawah pun sudah penuh oleh saudara-saudara yang menginap dan satu-satunya tempat yang memungkinkan untuk saya tempati adalah ruang tamu. Ya, saya tidur di lantai ruang tamu pukul 00.30 berjejeran dengan makanan-makanan dan ketiga keponakan saya, hehehe.

Dini hari, tepat pukul 3.20, 10 menit sebelum alarm yang saya pasang berbunyi, saya bangun dengan perasaan campur aduk yang berlebihan; antara tegang, cemas dan sederet perasaan lain menghadapi hari yang ditunggu-tunggu selama ini. Bismillah, saya bangun dan menyiapkan gaun akad saya, berwudhu, sholat, mandi kemudian mengompres wajah dengan es, dan mulai dimake-up pukul 4.00.



Pukul 6.00 pagi, saya sudah siap dengan segala gaun, hijab, dan perasaan deg-degan yang semakin menjadi-jadi. Pagi itu juga, saya bersimpuh mencium kaki Ummi, wanita mulia yang menumpahkan segala kasih sayangnya selama 23 tahun usia saya, juga memohon ridho Abah dan mengucapkan permintaan maaf dengan segenap hati saya karena telah begitu sering mengecewakan dan menyakiti hati beliau berdua. Terima kasih, Bah, Mi, sudah menjadi orang tua yang luar biasa hebat untuk kami. Pagi itu, seluruh keluarga menjadi saksi, turut meneteskan air mata kala saya menyampaikan bakti saya yg terakhir sebelum menjadi seorang istri. 



Pukul 8.00 pagi, rombongan keluarga dari suami saya datang dan langsung menuju masjid tempat akad akan dilangsungkan. Sesuai adat dalam keluarga, saya menunggu di rumah sampai ijab-qabul selesai terucap. Selama masa menggu itu, didampingi teman-teman dan adik-adik, saya terus memeluk ummi, tak henti-hentinya mengucap terima kasih juga untaian maaf kepada beliau.


Saya dituntun menuju aula pondok, demi bisa mendengarkan rangkaian acara yang sedang terjadi di masjid. seluruh tangan dan kaki saya terasa dingin karena campur-aduknya perasaan waktu itu. teman-teman saya menenangkan, berusaha membujuk saya untuk berhenti meneteskan air mata. Mashaa Allah, detik-detik berjalan sangat lambat.


Melalui speaker masjid terdengar jelas, pembacaan ayat-ayat suci, prosesi khutbah nikah, hingga sampai pada sighat ijab dan qabul yang diucapkan oleh Abah dan suami saya. Dari aula pondok tempat saya berada, sungguh tak ada yang bisa menahan air mata mendengar janji suci yang memuat tanggung jawab agung itu; kak Nashih sebagai seorang suami, dan saya sebagai seorang istri.





Subhanallah, Alhamdulillah, momen penting untuk memasuki babak baru ini terlewati sudah. Perlahan-lahan saya dituntun menuju masjid untuk dipertemukan pertama kalinya setelah kak Nashih resmi menjadi suami saya. Dengan penuh ta'dzim, saya mencium punggung tangannya sembari mengaminkan doa yang beliau bacakan di atas ubun-ubun saya,



Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah... Tak hentinya saya melantun syukur atas semua fase hidup yang Allah skenariokan hingga sampai pada titik ini. Terima kasih tak terhingga kepada semua keluarga, teman-teman dan semua yang telah mendoakan kami, mencurahkan segalanya dalam acara kami, jazakumullah aufar al-jaza, jaza-an katsiran. Terima kasih pula telah membaca tulisan sederhana saya, inshaa Allah lain waktu saya lanjutkan kembali di part kedua :)
Wassalamu'alaikum...



17 Apr 2015

a touched story



Assalamu’alaikum,

Suatu hari, embak saya, Mba Zulfa berkenalan dengan seorang wanita tua berusia 80an yang bersama-sama dalam suatu KBIH. Pukul 6.30 pagi, ketika ada jadwal berkumpul untuk semua jama’ah, mba Zulfa mendapati nenek tua tersebut sudah tiba di point meeting sedari waktu shubuh. Ketika ditanya dengan siapa sang nenek datang, beliau menjawab bahwa beliau datang seorang diri dengan berjalan kaki, berangkat dari rumah sekitar pukul 4 pagi. Mba Zulfa kemudian menceritakan kisah mengharukan tentangnya yang membuat saya makin luar biasa bersyukur atas limpahan berkah dan nikmat dari-Nya. Karena saya sendiri tidak tau siapa namanya, selanjutnya ijinkan saya mengkiaskannya dengan nama Mbah Sa’adah.

Begini kisahnya…
Sa’adah kecil lahir dalam keadaan yatim kala kondisi sekitarnya sama sekali tidak aman dan kondusif. Jangankan kemerdekaan, ia bahkan masih merasakan suasana perang di sekitarnya. Sa’adah adalah anak tunggal yang tidak pernah tau siapakah saudara dari ayah atau ibunya. Malangnya, ketika berusia 6 atau 7 tahun, ibunya pun meninggal. Sa’adah kecil bekerja sejak 7 tahun, mengerjakan apa pun asalkan bisa terus bertahan hidup.
Entah pada usia berapa, ia kemudian menikah dan dikaruniai seorang anak perempuan. Dibesarkan dan dididiknya anak semata wayangnya itu hingga sang anak menemukan jodohnya dan menikah dengan orang luar Jawa. Sang anak kemudian tinggal di Jakarta, dan “hanya” mau mengunjungi Sa’adah 5 tahun sekali. Menantu Sa’adah tidak suka padanya, setiap kali pulang ke rumah Sa’adah, entah apa sebabnya sang menantu membual bahwa Sa’adah ingin meracuninya, na’udzubillah.
Di usia senjanya, Sa’adah tinggal dengan seorang anak perempuan yang diasuh dan dianggap cucunya sendiri yg kini berusia sekitar 17 tahun.
Sejak usia dia mulai bekerja, Sa’adah hanya memakai upahnya untuk memenuhi kebutuhan hidup dan makan sehari-hari, apabila ada sisa, sisanya itu ia titipkan ke sebuah toko emas di Temanggung untuk ditabung. Dia tak pernah tau berapa jumlah tabungannya yg ada di toko emas itu.
Hingga pada suatu hari di tahun 2009, Sa’adah yang begitu ingin mewujudkan mimpinya untuk menunaikan rukun Islamnya yang kelima, mendatangi toko emas tempat ia menabung dan menanyakan jumlah uang tabungannya. Sang pemilik toko emas mengatakan bahwa Sa’adah memiliki uang 57 juta hasil tabungan nyaris seumur hidupnya. Semua pegawai dan orang-orang yang mendengar memeluknya dan meneteskan airmata mendengar takbir dan tangis buncah bahagia yang keluar dari mulut Sa’adah. Tahun itu juga, Sa’adah mendaftarkan diri untuk berangkat haji dan inshaa Allah akan berangkat tahun 2015 ini.
Allahu Rabb, saya sungguhan meneteskan air mata mendengar cerita yang disampaikan oleh mba Zulfa. Menyadari betapa banyak nikmat di sekitar saya yang seringkali abai untuk disyukuri. Maka saya seringkali malu untuk meminta lebih, kala limpahan nikmat-Nya masih lalai untuk saya syukuri. Tetima kasih sudah menyadarkan saya dengan kisah wanita itu…

18 Mar 2015

Bridezilla

Assalamu'alaikum,

Hey, how's life? Mine is always amazing alhamdulillah...

Sekarang ini saya sedang ada dalam fase bridezilla. mungkin ada beberapa yang masih asing dengan istilah ini, so what's bridezilla?
pict source
"A bridezilla is a bride-to-be who is so focused on creating a perfect wedding that she is extremely unreasonable. Bridezillas tend to destroy everyone in their path with their demanding attitudes" -wisegeek
pict source
Lebih jelasnya, bridezilla biasanya disebutkan bagi calon pengantin wanita yang merasa khawatir pernikahannya tidak berjalan sesuai rencana sehingga kelakuan dan sikapnya berubah mengerikan. Bridezilla biasanya menhinggapi orang yang perfeksionis dan tidak mudah puas dalam mengurus pernikahan. Mengerikan? Perfeksionis? yeah, that's sooo me nowadays...

wedding planning should be fun for sure, I know it well. tapi menjadi lebih mudah tersinggung dan super-sensitif ternyata memang hal yg lumrah terjadi to almost every-bride-to-be in the world, because it's really natural to want everything to be perfect.

Just like us in period time, cuma rasanya berkali lipat lebih sensitif daripada pas lagi PMS.
kebetulan, beberapa hari yang lalu saya ketemu salah satu teman SMA saya yg juga lagi hectic mengurus pernikahannya. sebelum saya sempat nanya, dia udahan curcol heboh kalo dianya lagi stress dan gampang tersinggung karena pre-wedd syndrome-nya. Apalagi acara pernikahan temen saya itu tinggal sebulan lagi, widih deket-deket dia berasa deket tungku api, panaaas, hihihi...

Alhamdulillahnya, saya dikelilingi keluarga dan orang-orang terdekat yang selalu support dan menenangkan saya, jadi aja hati bisa adem karena banyak dinasehatin, dikasih saran, dan lain-lain.
Yang paling pokok, bertaqarrub, bermunajat dan bermesraan dengan Dia yang Maha Membolak-balik hati sungguh lah obat paling ampuh untuk menenangkan dan mendinginkan hati. Tentu tidak ada yang lebih ahli dalam hal hati selain Dia yang membuat hati, kan? *tsaaaah ;)
Terima kasih sudah membaca :)

3 Mar 2015

Review: Wardah Lip Balm

Assalamu'alaikum,
this is my very first post about cosmetic review. Semoga membantu teman-teman yang sedang mencari review tentang kosmetik ya...

Saat berbincang dengan teman-teman tentang strategi marketing beberapa waktu lalu, kami sempat membahas tentang iklan/promosi dari sebuah produk dan iklan dari sebuah warung, toko, stand atau booth(s) yang lain. Salah seorang dari kami sempat mencontohkan tentang warung bakso sederhana yang tidak memasang iklan sama sekali namun pembeli/pengunjung yang datang luar biasa membludak, berbedadengan warung bakso lain yang memasang iklan di mana-mana namun pengunjungtidak seramai warung yang pertama. Di sini kami seketika 'ngeh' bahwa segencar apa pun promosi dilakukan, tidak akan berbanding lurus dengan konsumen apabila produk yang dijual memang tidak berkualitas. sebaliknya, meski tanpa memasang iklan, jika kualitas produk memang bagus, people will share and tell others to buy or use the products, don't you think so?

Lantas apa hubungannya note pembuka di atasdengan postingan saya kali ini? Tentu ada, karena saya (dan banyak orang lainnya, mungkin juga kalian) ketika puas dengan suatu produk dengan sendirinya akan berbagi atau bercerita kepada orang lain. Seperti review saya tentang produk wardah di bawah ini.

Wardah Lip Balm

Bibir saya tipe bibir yang cenderung kering sehingga ketika memulaskan lipstick cenderung kurang perfect karena kadang muncul gurat pecah-pecah dan sedikit merusak tekstur warna meskipun nggak kelihatan kecuali diperhatikan benar-benar, hehehe....

Tapi kalo lagi kuraaang banget minumnya bisa pecah-pecah banget dan mengelupas sehingga rasanya perih. #disitukadangsayamerasasedih momen banget kan ya, hahaha...

Tapi semua berubah sejak negara api menyerang, errr maksud saya sejak mulai make wardah lip balm yang enaaaak banget dipakenya. Jadi wardah lip balm ini ada 3 varian rasa; strawberry, orange dan vanilla. kalo yang saya pake ini yang varian rasa vanilla, sumpah wanginya enaaak banget sampe rasanya pengen saya makan, hehehe... Dan nggak harus nunggu lama, sejak pemakaian pertama lip balm ini langsung terasa bedanya. bibir pun udah nggak kering atau pecah-pecah lagi.
Emejingnya lagi, harganya pun super ekonomis untuk kosmetik sekelasnya ya.
Repurchase? yes, of course!


24 Feb 2015

Hectic February!

Assalamu'alaikum,

Februari-nya udah mau habis dan saya baru posting sekali bulan ini :(
maafkan karena baru blogging lagi selewat sebulan lebih. laptop saya sempet ga mau di charge kemaren-kemaren, dan mau nyervis pun harus nabung dulu karena setelah dibawa ke tempat belinya dan dikira-kira cost reparation-nya lumayan juga, hehehe... Well, alhamdulillah sekarang udah ngga ngambek dan mau dipake lagi.

Bulan February berlalu dengan sangat hectic dan mungkin bakal makin bertambah selama beberapa bulan ke depan, karena apa? Bcs Im gonna married soon inshaa Allah, yeaay, Alhamdulillah...

Bulan ini saya sempet sakit lumayan lama juga. Memang ya, sehat itu kenikmatan luar biasa yang paling jarang disyukuri. Baru banget kerasa kalo sudah sakit, mashaa Allah semoga bikin saya saya jadi makin rajin bersyukur plus menjadi pelebur dosa-dosa saya yang luar biasa banyaknya, aamiin...
Dan ya, selama sakit berat badan saya turun 4 kilo dalam waktu seminggu. Err, sedih banget buat saya yang susahnya setengah mati menambah berat badan. But it's ok then, masih ada waktu beberapa bulan untuk menambah berat badan, kata mas Nasih, hehehe...

Saya orangnya sangat-perfeksionis dan well-organized banget, karena hal inilah saya jadi gampang panik dan cemas. Maunya apa-apa ditangani sendiri karena kadang uring-uringan kalo ada yang kurang sempurna. Duh,tipe-tipe golongan darah A banget nggak sih... Well, doakan semoga semuanya lancar dan berkah ya. Terima kasih banyakk :))

16 Jan 2015

Smiles&Tears' new header

Assalamu'alaikum,

Udah lama pengen bikin header yang 'saya banget' tapi ga bisa bikinnya. Yang simple, trus desain dan warnanya itu bisa bikin orang yang liat langsung tau kalo itu header nellyl banget, errr apa yah, seseuai kepribadian gitu, hehehe...

Pernah sih beberapa kali dibikinin sama temen yang memang ahli di bidang desain dan IT, tapiya tetep aja ga sesuai keinginan dan ujung-ujungnya ga dipake, heuheu kesian padahal udah dibikinin susah-susah...

Akhirnya, beberapa minggu yang lalu, pas adik saya di rumah. Berbekal tripod biar posisinya ga pindah, difotoin lah sama dia dan hasilnya lumayan bagus. Waktu itu ga berniat buat dibikin header makanya bajunya pun warna biru yang notabene enggak saya banget. Tapi berhubung saya suka hasil fotonya yaudah saya jadiin header blog ini...
Taraaa... jadilah header ala kadarnya ini ;D

2015!

Assalamu'alaikum,

Belakangan saya lagi hobi banget blogwalking (lagi). Sebenernya ini salah satu kegiatan favorit saya kalo lagi ada banyak waktu. Tapi beberapa bulan terakhir karena banyaknya aktivitas yang ga memungkinkan untuk berlama-lama duduk di depan laptop, kegiatan blogwalking jadi jarang saya lakukan. Paling-paling (cuma) ke blog-blog favorit saya yang memang sayaaaang banget kalo dilewatkan postingannya. Itupun blogwalking nya dari hp... Selain karena memang hobi banget baca, blogwalking juga banyaaak manfaatnya loh, salah satunya jadi punya banyak inspirasi buat ditulis, hehe...

Well, berhubung masih awal 2015, berbicara soal proposal yang selalu saya buat setiap taunnya, actually, ada satu proposal yang belum tercapai di 2014 kemarin. Semogaaa banget di 2015 ini Allah kasih kesempatan untuk mewujudkan, aamiin...

Proposal untuk 2015 sendiri kalo saya bilang sifatnya lebih matang, yah karena entah kenapa sepanjang 2014 kemarin banyak banget yang bilang kalo saya berubah lebih dewasa. Alhamdulillah banget kan ya untuk saya yang selama ini selalu dibilang manja, childish, dan gak dewasa...

Di tahun ini, proposal semacam perbaikan ubudiyah, akhlaq, pendewasaan, taqarrub ilallah lebih mendominasi daripada proposal-propasal kayak yang pengen ini-pengen itu, mau ini-mau itu, dan blablabla... Karena April nanti saya masuk 23, tua ya? hehehe....
Menurut saya sih dengan perbaikan ubudiyah dan taqarrub ilallah, segala hal baik inshaa Allah akan mengikuti dengan sendirinya, tentu saja tanpa mengesampingkan segala bentuk ikhtiar.
Dan saya pun makin sadar, kenapa seringkali doa-doa yang saya langitkan kadang masih ditunda olehNya. Tentu selain karena belum tepat waktunya atau Allah simpan dan gantikan dengan yang lebih baik, sebab lain adalah karena pendekatan saya ke Allah yang kurang atau bahkan menurun drastis...

Semoga ke depan, segala hal yang saya lakukan, baik masalah ibadah, urusan dunia dan segala aspek lain, Allah kasih kemudahan dan keberkahan serta lebih manfaat lagi dari taun-taun sebelumnya, Allahumma aamiin :)

Thanks for reading, xoxo

tentang ikhlas



 Assalamu’alaikum,

Menurut saya, ikhlas adalah wujud kerelaan tertinggi sekaligus tersulit dalam tahapan pasrah seorang manusia.

Ikhlas itu, seperti surat al-Ikhlas dalam al-Quran yang sekalipun tak pernah menyebutkan namanya dalam keseluruhan ayat.

Ikhlas itu, tak bisa begitu saja terbangun tanpa tahap-tahap awal yang sangat panjang.

Ikhlas dalam segi apa? Tentu dalam segala hal.

Ikhlas memberi tanpa mengungkit.

Ikhlas beramal tanpa dipamerkan.

Ikhlas bertindak tanpa disebut.

Ikhlas di hati tanpa merasa lebih.

Ikhlas berjuang tanpa mengharap apapun.

Ikhlas menerima segala ketentuan Allah meski berat.

Ikhlas berdoa dan berpasrah.

Sungguh, tidak pernah ada yang bilang ikhlas itu mudah.

Sungguh, tidak pernah ada yang merasa ikhlas datang begitu saja.

Keikhlasan akan datang kala terbiasa…

Berawal dari keterpaksaan, keistiqomahan, kebiasaan, kemudian ikhlas itu datang.

Seperti juga mengikhlaskan takdir kehidupan yang digariskan-Nya…


Karena sejatinya, dia yang tak pernah merasa dirinya ikhlas, dialah yang memahami hakikat ikhlas yang sebenarnya…

14 Jan 2015

'once a year' moment



Assalamu’alaikum,

Momen berkumpul dalam formasi lengkap di keluarga saya adalah momen yang sangat jarang terjadi, setahun paling hanya bisa berkumpul lengkap dua kali. Sekali pas acara haflah pondok, dan sekali pas lebaran atau liburan Rabi’ul Awal di mana adik-adik saya yang ada di pondok liburan. 

Yang bisa sering berkumpul mungkin saya dan kakak-kakak saya yang sudah menikah, tapi adik-adik saya semua ada di pondok dan baru bisa pulang setahun dua atau tiga kali. Makanya, momen kebersamaan komplit selalu menjadi detik-detik yang amat berharga bagi kami sekeluarga.

Momen kebersamaan kami diisi dengan sesekali berlibur bersama (yang ini sungguh ga pernah bisa lengkap-kap-kap), acara internal ngobrol penuh heart-to-heart yang sering berakhir curhat dan mewek, acara Maulidan keluarga setiap Rabi’ul Awal seperti kemarin, dan acara-acara keluarga semacam family gathering dengan keluarga besar dari Abah atau Ummi.

Waktu kumpul lengkap Januari ini, momen yang selalu ada setiap libura Maulid adalah, seperti biasa kami ada acara maulid dzibaiyyah keluarga. Sungguh seru dan semoga membawa berkah bagi kami semua. Keseruan, kehebohan, kebisingin dan keamburadulan dari mulai mengangkat-angkat sound system, peralatan rebana, dan berebut microphone serta alat-alat lain sampe ada yang nangis daaaan lain-lainnya.

Yang bersuara emas macam mba Zulfa, dek Aly, dan… saya (hahahahaha yang terakhir boong abiss ini, maksa banget) kebagian nyari lagu dan mengawali pergantian sholawat. Yang tangan-tangannya ga bisa di tanah alias suka terbang macam mba Ida, dek Intan, dek Faza tugasnya megang peralatan rebana. Yang lain yagitu, giliran baca maulidnya. Ohya, kalo baca yang panjang-panjang itu bagiannya dek Fatma karena bacanya cepet dan bagus banget. Fyi, dek Fatma itu putri mba Zahro yang kedua dan umurnya baru 10 tahun. Saya mah istiqomah baca ‘fahtazal’ hehe…

Selepas doa yang dibacakan oleh Abah ditambah beliau membacakan hajat masing-masing dari kami sekeluarga, biasa diisi mauidhoh dari Abah dan semua anak wajib ngasih sambutan, ini lebih ke momen sharing, curhat dan saling mengingatkan gitu. Kalo di sesi ini lebih personal, cuma anggota asli aja, Abah Ummi dan anak-anak,jadi para menantu dan cucu diusir dulu hehehe…

Dan terakhir apalagi kalo bukan makan-makaaan. Makan bareng-bareng kayak pas masih di pondok, pake nampan, alhamdulillah… Semoga tahun depan, saat Rabi’ul awal lagi, sudah ada anggota-anggota baru lagi ya Allah, aamiin…