Pages

30 Jan 2012

ibuku wanita hebat

Kurasa semua orang menganggap ibunya yang paling hebat. begitu pun aku. Tidak, ibuku bukan hanya hebat, beliau sangat istimewa.

Ibuku seorang wanita berusia 48 taun yang kupanggil dengan sebutan “ummi”. Ibuku sosok wanita luar biasa yang dari rahimnya lahirlah aku dan ketujuh saudaraku. Aku dan saudara-saudaraku, kami, sangat mencintai ibu.

Ibuku adalah wanita yang sangat lembut pada suami, ramah pada semua orang. Dan sangat menyayangi kami, anak-anaknya.

Ibuku seorang wanita mulia yang dari mulutnya senantiasa mengalir dzikir pada-Nya serta doa untuk untuk suami dan anak-anaknya.

Ibuku seorang wanita yang lebih sering diam atau menangis tatkala beliau sedih atau marah. Beliau tidak pernah mengeluh atau membebani suaminya. Hanya dzikir dan dzikir yang kudengar dari bibirnya dan tak pernah kudengar kata-kata kasar yang keluar dari lisannya.

Ibuku seorang wanita yang tidak pernah meminta sesuatu pada suaminya. Bahkan seringkali abahku yang membujuknya untuk meminta sesuatu pada abah.

Ibuku seorang wanita sederhana, tidak neko-neko ataupun berlebihan.

Ibuku tidak pernah membentak. Beliau hanya diam atau pun menasehati kami secara perlahan. Namun hal itu justru membuat kami ketakutan dan segera meminta maaf pada beliau karna kami tau kami telah menyakitinya.
Ketika dulu aku bertanya, “Kenapa Ummi hanya diam dan menangis ketika kami menyakiti hati Ummi?” beliau menjawab, “Aku lebih memilih diam ketika aku marah karna aku takut syaitan menuntunku mengeluarkan kata-kata kasar yang tidak layak diucapkan oleh seorang Ibu dan menjadi doa yang nantinya kusesali selamanya. Sebesar apa pun kamu mengecewakan ibumu, aku selalu berdoa padaNya agar menjadikanmu putriku yang sholihah dan sempurna di hadapan-Nya.”

Ibuku suka memaksa membangunkan kami sebelum subuh, bahkan adikku yang masih kecil. Beliau akan sangat kecewa kalo kami melewatkan tahajud.

Ibuku suka bertirakat untuk kesuksesan anak-anaknya. Beliau tidak pernah berhenti puasa walau sedang sakit sekali pun. Ketika kuminta padanya untuk berhenti berpuasa ketika kami sedang bepergian, beliau hanya berkata, “Aku hanya perempuan biasa, tapi aku meminta pada Allah agar menjadikan anak-anakku orang yang sukses dan luar biasa. Mungkin puasaku ini tak ada apa-apanya dibandingkan kepuasanku ketika melihat kalian sukses…”

Ibuku humoris, beliau suka bercanda. Membuat kami tersenyum, tidak pernah memasang wajah masam pada suaminya.

Ibuku sangat perhatian. Bahkan sampai usiaku sebesar ini, beliau selalu mengingatkanku agar aku tidak telat makan, minum susu dan sebagainya.

Dan banyak lagi keistimewaan ibuku tercinta.

Bagaimana, ibuku benar-benar sosok yang hebat bukan? Aku sayang Ibu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, feel free to share your comment :)