Waktu itu, Imam Ghazali seperti kebanyakan orang lainnya pergi merantau ke Naishabur untuk mencari ilmu. Dengan semangat yang besar, bertaun-taun Imam Ghazali belajar kepada ulama'-ulama' di daerah tersebut. Ia mencatat semua hal yang didapat dari guru-gurunya dan sangat mencintai hal itu.
Setelah bertahun-tahun belajar, Imam Ghazali berencana pulang ke daerahnya. Ia merapikan catan-catan yang ia buat selama ia belajar, lalu ikut kafilah yang akan menuju kampung halamannya. Di tengah perjalanan, kafilah tersebut dihadang oleh sekelompok perampok. Mereka mengambil barang-barang berharga yang mereka jumpai.
Ketika tiba giliran perampok tersebut memeriksa barang-barang Imam Ghazali, si perampok hanya menemukan setumpuk kertas-kertas catatan miliknya. Imam Ghazali berkata, "Tolong jangan ambil catatan-catatan ini, ini sangat berharga untukku."
Si perampok menjawab, "Apa ini? Mengapa kau menyimpannya?"
"Itu barang yang tidak berguna bagi kalian, tapi sangat berguna bagiku. Ini adalah hasil pelajaranku selama beberapa tahun. Apabila kau merampasnya, maka habis lah ilmuku, dan usahaku selama bertahun ini akan sia-sia saja," jelas Imam Ghazali.
"Apakah hanya lembaran-lembaran ini kah ilmumu?"
"Ya."
"Ilmu yang disimpan dalam bungkusan dan bisa dicuri oleh siapa saja sebenarnya bukanlah ilmu. Pikirkan itu baik-baik..."
Ucapan singkat yang keluar dari mulut si perampok yang menghadangnya tersebut, benar-benar mengguncang jiwa Imam Ghazali. Seketika ia tersadar, ilmu bukan sekedar tulisan-tulisan yang selama ini ia catat., namun harus berusaha melatih otaknya lebih banyak, mengkaji dan menganalisa ilmu-ilmunya serta menyimpannya dalam "buku otaknya" 
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkunjung, feel free to share your comment :)