namaku nailil maghfiroh, itu nama pemberian dari abahku (sekarang beliau kupanggil Buya) yang sangat aku syukuri.
karna apa? karna bukan merupakan nama ajam tentu saja. dan aku tau, setiap nama yang diberikan oleh abuya-ku pastilah mempunyai tafa'ul yang baik.
iya, karna "nailil maghfiroh" berarti "memperoleh ampunan". dan kebetulan aku lahir pada bulan Syawal.
waktu awal-awal aku belajar nahwu, aku bingung kenapa namaku bukan 'nailul' maghfiroh, tapi 'nailil'. ada sedikit penasaran, tapi selalu saja urung kutanyakan pada Buya.
bertahun kemudian, ketika aku sudah lupa untuk bertanya pada buya soal 'nailil' dan bukan 'nailul' tersebut, beliau ustadzy (ustadz Lubab) bertanya padaku "Ndo, kok namanya nailil sih, bukan nailul. di depannya kan ngga ada apa-apa?"
barulah aku ingat untuk menanyakan hal itu pada buya. kata buya, depannya ada "nafroha bi nailil maghfiroh". oalaah, baru mudeng akunya. terus aku nanya lagi. "kenapa nafroha buya, bukan farohna? kan akunya udah lahir ini" dan apa jawab buya, "karna aku dan umi-mu bahagia dan akan selalu bahagia punya putri seperti kamu... jadi aku ngga pake farohna"
yaaa, jadi begitulah filosofi namaku. betapa bangganya aku punya abuya yang memberiku nama seindah ini.
karna apa? karna bukan merupakan nama ajam tentu saja. dan aku tau, setiap nama yang diberikan oleh abuya-ku pastilah mempunyai tafa'ul yang baik.
iya, karna "nailil maghfiroh" berarti "memperoleh ampunan". dan kebetulan aku lahir pada bulan Syawal.
waktu awal-awal aku belajar nahwu, aku bingung kenapa namaku bukan 'nailul' maghfiroh, tapi 'nailil'. ada sedikit penasaran, tapi selalu saja urung kutanyakan pada Buya.
bertahun kemudian, ketika aku sudah lupa untuk bertanya pada buya soal 'nailil' dan bukan 'nailul' tersebut, beliau ustadzy (ustadz Lubab) bertanya padaku "Ndo, kok namanya nailil sih, bukan nailul. di depannya kan ngga ada apa-apa?"
barulah aku ingat untuk menanyakan hal itu pada buya. kata buya, depannya ada "nafroha bi nailil maghfiroh". oalaah, baru mudeng akunya. terus aku nanya lagi. "kenapa nafroha buya, bukan farohna? kan akunya udah lahir ini" dan apa jawab buya, "karna aku dan umi-mu bahagia dan akan selalu bahagia punya putri seperti kamu... jadi aku ngga pake farohna"
yaaa, jadi begitulah filosofi namaku. betapa bangganya aku punya abuya yang memberiku nama seindah ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkunjung, feel free to share your comment :)